Kenali Leptospirosis

0
344
credit by : (unsplash.com/freestocks)
- Advertisement -

Leptospirosis adalah penyakit zoonis, yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Tersebar di seluruh dunia  terutama di daerah tropis termasuk Indonesia (Hickey dan Deemeks, 2003). Tikus dapat menjadi sumber penularan leptospirosis pada manusia. Leptospirosis juga telah ditemukan dalam tubuh  anjing, hewan ternak, burung tertentu, katak dan ular. Namun, di Indonesia penularan Leptospirosis lebih dikenal masyarakat penularan hanya melalui urin tikus. Sebetulnya, penyebab utama penyakit ini berasal dari urin hewan terinfeksi Leptospira yang mencemari lingkungan. Leptospirosis menjadi salah satu penyakit yang merebak dan muncul pasca musibah banjir.

Penyebab

Penularan bakteri ini terjadi ketika adanya kontak langsung dengan urin hewan yang terinfeksi, terlebih lagi jika ada luka terbuka yang akan mempercepat proses masuknya bakteri terinfeksi ke dalam tubuh, bisa juga melalui air dan tanah yang lembab yang terkontaminasi dengan urin terinfeksi  bakteri Leptospira. Leptospira di dalam tubuh hewan atau tikus dapat bertahan selama hewan tersebut hidup tanpa menyebabkan sakit (HeatII dan Johnson, 1994), Leptospira akan dikeluarkan melalui urin dan mencemari lingkungan . Penyebaran leptospirosis dapat meningkat ketika curah hujan tinggi dan lingkungan kurang terjaga kebersihannya, terlebih jika terjadi musibah banjir.

Perlu kita ketahui ada beberapa jenis pekerjaan dengan resiko tinggi tertular penyakit leptospirosis, yaitu petani atau pekerja di sawah, perkebunan teh, rumah potong hewan, dokter hewan, atau orang-orang yang berhubungan dengan perairan, lumpur dan hewan , baik hewan peliharaan ataupun satwa liar (LEVETC, 2001).

Gejala

Masa inkubasi bakteri Leptospira bervariasi sekitar 2 hari hingga 3 minggu, fase akut sekitar 7 – 10 hari dengan ditandai beberapa gejala yang akan tampak, yaitu :

a.     Demam tinggi lebih dari 40◦ C disertai menggigil

b.     Nyeri kepala dibagian depan

c.     Nyeri sendi dan Nyeri otot

d.     Nyeri ulu hati

e.     Mual hingga Muntah

f.      berkurangnya nafsu makan

g.     Nyeri otot pada bagian betis dan pinggang

h.     Sembelit

Pada gejala lanjutan umumnya juga terjadi aseptic meningitis (gejala meliputi sakit kepala) dan fotosensitifitas (mata sensitif terhadap cahaya), conjunctival suffusion (kemerahan pada selaput putih mata)  muncul pada hari kelima hingga kesembilan dan bertahan beberapa minggu, anemia bahkan gagal ginjal pada minggu kedua.

Dari seluruh kasus Leptospirosis diperkirakan 90% kasus leptospirosis ringan dengan gejala demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Sisanya hanya sekitar 10% kasus berat.

Pengobatan

Biasanya pasien akan diberikan antibiotik untuk menghancurkan bakteri, yakni antibiotik dari golongan penicillin, streptomycine,  dan erythromycine. Sedangkan, untuk kasus berat dapat diberikan penisilin G intravena sebagai obat pilihan, terapi suportif lain dan monitoring ketat.  Antibiotik sebaiknya diberikan selama 7-10 hari. Namun, bakteri ini resisten terhadap chloramphenicol, vankomisin, aminoglikosida, dan sefalosporin generasi pertama.

Untuk mencegah penyakit agar tidak semakin parah, sebaiknya segera obati pasien yang terkena leptospirosis dengan membawa ke klinik terdekat atau rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang optimal.

Pencegahan

Pencegahan leptospirosis dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

    1. Melakukan perilaku hidup bersih, dengan selalu mencuci tangan, mencuci bagian tubuh lainnya dengan sabun atau antiseptic setelah bekerja dari sawah, ladang atau di lingkungan yang tercemar dengan urine tikus/hewan. Meningkatkan sanitasi lingkungan.
    2. menghindari air, tanah atau lumpur yang mungkin terkontaminasi.
    3. Pekerja atau profesi yang beresiko tinggi sebaiknya menggunakan pakaian protektif dan menutupi luka dan abrasi kulit dengan penutup tahan air.
    4. Mengurangi populasi tikus dan memutus siklus penularan melalui pengobatan dan vaksinasi bagi ternak atau hewan kesayangan. Namun, untuk vaksin hanya tersedia untuk imunisasi pada orang-orang berisiko tinggi di Tiongkok, Jepang, Vietnam, Israel dan beberapa negara Eropa
    5. Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang bahaya leptospirosis.

Sumber :

  1. LEPTOSPIROSIS PADA HEWAN DAN MANUSIA DI INDONESIA

KUSMIYATI . SUSAN M.NOOR dan SUPAR , Balai Penelitian Veteriner, PO Box 151, Bogor 16114

  1. HICKEY dan DEEMEKS, 2003
  2. HEATII dan JOHNSON, 1994
  3. LEVETC, 2001

5. Ikterus yang Disebabkan oleh Suspek Leptospirosis M Patrio Gondo Sucipto, Ronald       Martua Nababan, Ryan Falamy Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Baca juga :

1.  Kenali Gejala Diare, Penyebab, dan Penangannya

2. Demam Berbahaya Atau Tidak ?

3. Waspada Penyakit Yang Muncul Pasca Banjir, Dan Simak Pencegahannya

 

Share :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here